Tampilkan postingan dengan label metode pengukuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metode pengukuran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juli 2008

PEMETAAN GUA

Di dalam memetakan gua sudah barang tentu kita membutuhkan beberapa peralatan yang di antaranya adalah kompas yang digunakan untuk mengetahui berapa derajat perbedaan arah lorong/jalan terhadap arah utara. Clinometer untuk mengetahui kemiringan bidang terhadap sumbu horizontal dalam satuan derajat. Topofil yang sebenarnya memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda dengan pita ukur, hanya saja benda ini berkerja atas dasar roda yang berputar menggerakkan angka-angka dalam satuan centimeter. Pita ukur, pita ini dibuat dari bahan linen atau plat baja tipis yang kemudian seiring dengan perkembangan jaman saat ini telah banyak pula yang dibuat dari bahan fiber yang mana pita ini dilengkapi dengan ukuran dalam satuan mm sampai cm. lembar kerja (work Sheet) juga sangat dibutuhkan dimana lembar kerja ini akan digunakan untuk mencatat data yang diambil selama pemetaan dan lembar ini diusahakan terbuat dari benda yang tahan terhadap air.

Layaknya peta-peta yang lain, peta gua juga memiliki derajat ketelitian (grade) yang berbeda. Tingkatan itu yang oleh BCRA (British Cave Research Association) dibedakan menjadi 6 tingkatan khusus dan pembagian ini berdasarkan keakuratan pengukuran, teknik yang digunakan dan peralatan yang digunakan. Grade I adalah grade yang hanya membuat sketsa dengan akurasi rendah, tanpa membuat pengukuran. Grade II adalah grade yang digunakan jika diperlukan untuk menggambarkan perantaraan dalam akurasi antar grade I dan III. Grade III adalah pemetaan yang menggunakan survey magnetic kasar, sudut horizontal dan sudut vertical dan diukur dengan peralatan, derajat kesalahan ± 2,5°. Alat ukur jarak dengan kesalahan ± 50 cm, kesalahan posisi stasiun 50 cm. Grade IV dapat digunakan jika diperlukan untuk menggambarkan survey yang tidak sampai ke grade V tetapi lebih akurat daripada grade III. Grade V adalah survey dengan peralatan magnetic yang mana akurasi sudut horizontal dan vertikalnya hanya ± 1°. Akurasi pengukuran jarak ± 10 cm dan kesalahan posisi stasiun kurang dari 10 cm. Grade VI adalah survey yang dilakukan dengan lebih akurat dari grade V. Sementara grade yang terakhir adalah grade X yang mana survey ini menggunakan theodolite sebagai pengganti kompas.

Selain tingkatan-tingkatan diatas BCRA membuat klasifikasi tingkatan peta gua berdasarkan tingkat ketelitian detail survey yang dibagi atas klas A yang mana semua detail dibuat berdasarkan hapalan luar kepala, Klas B yang detail lorong dicatat dalam gua berdasarkan perkiraan, Klas C detail lorong diukur pada stasiun survey, dan yang terakhir Klas D yang detail lorong diukur pada stasiun survey dan antar stasiun.

Kombinasi grade dan Klas juga sering digunakan dengan catatan bahwa derajat pengukuran ini harus diusahakan sejak dua stasiun pertama karena kesalahan yang timbul juga akan bersifat kumulatif dimana semakin jauh dari titik awal maka akan semakin besar pula kesalahan yang ditimbulkan.

Di dalam pemetaan gua terdapat dua metode/system pengukuran yang sering digunakan yang di antaranya adalah forward method dan leapfrog method. Forward method adalah metode dimana surveyor dan pencatat berjalan berurutan (depan dan belakang) hingga stasiun yang terakhir. Sedangkan leapfrog method adalah surveyor dan pencatat saling bergantian berada didepan atau belakang layaknya lompat katak dan metode ini lebih teliti dari metode forward method.

System pemetaan gua berdasarkan arah survey juga terbagi dua yaitu Top to bottom dan Bottom to top. Top to bottom adalah pengukuran yang dimulai dari entrance hingga ujung lorong/dasar gua atau hingga stasiun terakhir. Bottom to top adalah pengukuran dari ujung lorong/dasar gua sampai entrance atau kebalikan dari system Top to bottom.

Pengumpulan data adalah langkah pertama yang bisa digunakan dalam pembuatan peta gua. Pengumpulan data biasanya dilakukan oleh suatu team yang idealnya terdiri dari empat orang dengan pembagian tugas masing-masing. Orang pertama akan bertugas sebagai pembaca alat-alat ukur. Orang pertama ini akan membawa alat-alat seperti clinometer, kompas dan meteran. Orang kedua bertugas sebagai stasiun pengukuran, orang kedua ini membawa ujung meteran yang dipegang oleh orang pertama. Tinggi orang pertama dan kedua sedapatnya diusahakan memiliki tinggi yang sama dengan tujuan untuk mendapatkan ketelitian dalam pengukuran elevasi (kemiringan lantai). Orang ketiga bertugas sebagai pencatat data pengukuran, descriptor untuk cross system (irisan lorong) dan sketsa perjalanan. Orang keempat adalah leader, penentu titik stasiun maupun sebagai pemasang lintasan pada penelusuran gua vertical.

Data-data yang diambil berupa sudut clinometer untuk mengetahui elevasi/sudut kemiringan lantai gua. Sudut kompas untuk mengetahui arah lorong dari arah utara kompas. Jarak miring untuk mengetahui jarak antar stasiun pengukuran. Jarak kiri/kanan untuk memperoleh jarak antara dinding kiri dan kanan dari stasiun pengukuran. Tinggi atap untuk mengetahui tinggi atap pada setiap stasiun pengukuran. Cross section adalah penampang lorong gua. Sketsa perjalanan adalah sketsa yang dibuat dari arah kompas dan diisi dengan keterangan-keterangan yang tidak terdapat dalam work sheet data (diisi dengan simbol-simbol kondisi gua, ornament gua, air, lumpur, pasir dan hal-hal lainnya).

Setelah semua data yang diperlukan diperoleh barulah diadakan perhitungan data untuk menghitung data-data yang diambil dilapangan. Untuk perhitungan ini sudah ada table yang didalamnya terdapat rumus-rumus yang akan diper-gunakan, antara lain menggunakan rumus Jarak datar (I) = cosinus klino x jarak miring (D), Absis (X) = sinus kompas x jarak datar (I), Koordinasi sumbu x (2x) = penambahan absis terhadap status sebelumnya, Ordinasi (Y) = cosinus kompas x jarak datar (I), Koordinasi sumbu Y (ÓY) = penambahan ordinat terhadap status sebelumnya, Beda elevasi (h) =tangent klino x jarak datar (I), Beda elevasi total (Óh) = penambahan beda elevasi terhadap stasiun sebelumnya. Dalam penggunaan rumus-rumus diatas hal-hal yang perlu diperhatikan adalah penghitungan Óx, Óy, Óh pada percobaan sebelumnya.

Setelah semua data-data diperoleh, barulah gua dapat digambarkan sebagai plan section, extended section, projected section atau peta gua tiga dimensi. Plan section adalah peta gua tampak atas., extended section adalah peta gua tampak samping tanpa proyeksi, sedangkan projected elevasion adalah peta gua tampak samping, diproyeksikan dari plan section.

Tahapan-tahapan dalam menggambar peta gua diawali dengan menentukan skala peta dan arah utara peta, penentuan titik koordinat tiap stasiun (system koordinasi polar, system koordinasi cartesius), penetuan jarak titik dinding dan kanan tiap stasiun dan tiap perubahan lebar lorong, menghubungkan titik dinding kiri dan kanan antar stasiun, memasukkan symbol-simbol koordinasi gua, menggambar cross section dan membuat kelengkapan peta. Kelengkapan peta sendiri terdiri dari nama gua, grade peta, lokasi gua (administrasi, geografi, elevasi dpl), arah utara peta, skala peta (grafis, fraksi), waktu survey (tanggal, bulan, tahun), surveyor (kelompok, anggota, acara), panjang dan kedalaman gua dan yang terakhir diharapkan adanya foto-foto gua tersebut. Selamat mencoba !!! Cepot

Pengukuran (Surveying)

Pengukuran adalah sebuah teknik pengambilan data yang
dapat memberikan nilai panjang, tinggi dan arah
relatif dari sebuah obyek ke obyek lainnya. Pengukuran
terletak di antara ilmu geodesi dan ilmu pemetaan.
Hasil penelitian geodesi dipakai sebagai dasar
referensi pengukuran, kemudian hasil pengolahan data
pengukuran adalah dasar dari pembuatan peta.

Untuk melakukan sebuah pengukuran diperlukan
perencanaan dan persiapan terlebih dahulu agar hasil
yang diperoleh dapat digunakan secara efektif dengan
waktu, biaya dan tenaga pengukuran yang efisien.

Pengukuran memerlukan alat ukur. Theodolite,
waterpass, meteran, total station, gps, echosounder,
sextant adalah contoh-contoh alat ukur.

Pengukuran dan Pemetaan Bidang Tanah

Melalui pengikatan kepada titik-titik dasar orde 4, maka dilaksanakan pengukuran tanah bidang per bidang. Bidang-bidang tanah hasil pengukuran kemudian dipetakan dalam Peta Dasar Pendaftaran. Peta ini berskala 1:1000 atau lebih besar untuk daerah perkotaan, 1:2500 atau lebih besar untuk daerah pertanian, dan 1:10000 atau lebih kecil untuk daerah perkebunan besar. Peta ini harus mempunyai ketelitian planimetris lebih besar atau sama dengan 0,3 mm pada skala peta.

Sebelum suatu bidang tanah diukur, wajib dipasang dan ditetapkan tanda-tanda batasnya, setelah mendapat persetujuan dari pemilik tanah yang berbatasan langsung. Apabila sampai dilakukannya penetapan batas dan pengukuran bidang tanah tidak tercapai kesepakatan mengenai batas-batasnya (terjadi sengketa batas), maka ditetapkan batas sementara yang menurut kenyataannya merupakan batas bidang-bidang tanah yang bersangkutan. Kepada yang bersengketa diberitahukan agar menyelesaikannya melalui Pengadilan.

Pengukuran bidang tanah dapat dilakukan secara terestrial, fotogrametrik, atau metoda lainnya. Pengukuran terestris adalah pengukuran dengan menggunakan alat ukur theodolite berikut perlengkapannya seperti: pita ukur, baak ukur, electronic distance measurement (EDM), GPS receiver, dan lain sebagainya.

Adapun pemetaan secara fotogrametrik adalah pemetaan melalui foto udara (periksa foto simulasi di atas). Hasil pemetaan secara fotogrametrik berupa peta foto tidak dapat langsung dijadikan dasar atau lampiran penerbitan Sertifikat Hak atas Tanah. Pemetaan secara fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran secara terestris, mulai dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga kepada pengukuran batas tanah. Batas-batas tanah yang diidentifikasi pada peta foto harus diukur di lapangan.

Rabu, 09 Juli 2008

Alat Survey Elektronik

Selama ini dalam dunia pemetaan gua dikenal survey magnetik, yang menggunakan kompas, dan non magnetik (Grade X) yang menggunakan theodolite, baik theodolite buatan sendiri maupun theodolite buatan pabrik. Alat survey theodolite berikut ini tidak secara khusus dibuat untuk pekerjaan survey gua. Namun kemampuan dan fungsi theodolite ini dapat dipergunakan untuk merekam situasi gua secara langsung. Prinsipnya adalah alat theodolite ini mempergunakan LASER untuk melakukan scanning (pemindaian) terhadap bagian yang dituju. Kemudian merekam hasil scanning direkam dalam komputer dan diolah hingga mendapatkan gambar tiga dimensi yang sama dengan profil target.

Alat theodolite ini terintegrasi dengan software yang dibuat secara khusus untuk dipergunakan bersama alat theodolite ini serta kamera untuk kalibrasi warna yang beresolusi tinggi. Kombinasi dari komponen-komponen survai metode ini (scanner, software, kamera) memberikan hasil: mesh tekstur yang beresolusi tinggi secara otomatis, rekonstruksi tiga dimensional menyerupai foto, identifikasi detail yang persis sama, pengukuran posisi dan jarak secara online, setting secara online dari berbagai sudut pandang.

Ketelitian dan akurasi alat theodolite ini cukup tinggi. Keakuratan theodolite ini dalam pembidikan tunggal adalah 10 mm, dan bila dengan rata-rata adalah 5 mm. Ketelitian pengukuran adalah 5 mm.

Di bawah ini adalah gambar-gambar yang pernah diambil di www.riegl.com, sayangnya sekarang situs ini sudah di-update dengan meniadakan gambar-gambar di bawah ini beserta artikelnya yang mendeskripsikan pelaksanaan scanning di dalam gua



Gambar alat scan dan skema koneksi dengan laptop





Gambar tahap-tahap scanning situasi lorong gua





Gambar hasil scanning
Dalam situs resmi produsen alat ini, tidak ditampilkan scanning lorong gua dari lantai hingga ke atap.


 
Dukung Kampanye Stop Dreaming Start Action