Tampilkan postingan dengan label alat pengukuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alat pengukuran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juli 2008

Grade Pemetaan Gua

Peta gua yang dibuat memiliki tingkatan sesuai dengan derajat ketelitian saat survey dilaksanakan. Oleh BCRA, tingkatan survey dibagi menjadi 6 grade ditambah 1 grade khusus. Derajat ketelitian berdasarkan keakuratan pengukuran, detail, teknik yang digunakan, peralatan yang digunakan. Pembagian Grade Survey Center Line standard BCRA (sumber Surveying Cave, Bryan Ellis, 1970) adalah sebagai berikut:

PEMBAGIAN TINGKATAN SURVEY BERDASARKAN SURVEY CENTER LINE
OLEH BCRA (British Cave Researche Association)

Catatan: Organisasi caving, dan lainnya, yang mereproduksi Tabel 1, 2, dan 3 dalam publikasi mereka, ijin dari BCRA untuk mereproduksi ketiga tabel tersebut tidak diperlukan

Grade 1
Hanya membuat skets dengan akurasi rendah, tanpa membuat pengukuran.

Grade 2
Digunakan jika diperlukan, untuk menggambarkan perantaraan dalam akurasi antara Grade 1 dan Grade 3.

Grade 3
Survey magnetik kasar. Sudut horisontal dan sudut vertikal diukur dengan peralatan, derajat kesalahan 2,5 . Alat ukur jarak dengan kesalahan 50 cm, kesalahan posisi stasion kurang dari 50 cm.

Grade 4
Dapat digunakan jika diperlukan, untuk menggambarkan survey tidak sampai ke Grade 5, tetapi lebih akurat daripada Grade

Grade 5
Survey dengan peralatan magnetik. Akurasi sudut horisontal dan vertikal 1. Akurasi pengukuran jarak 10 cm. Kesalahan posisi stasiun kurang dari 10 cm.

Grade 6
Survey dilakukan dengan lebih akurat dari grade 5. Grade X Survey berdasarkan diutamakan menggunakan theodolite sebagai pengganti compas.

Catatan:

  1. Tabel di atas merupakan ikhtisar dan ditujukan sebagai peringatan, bahwa grade survey yang ditunjukkan di atas harus dibaca bersama-sama dengan penambahan keterangan dalam dalam buku “Surveying Cave”. Untuk lebih jelasnya lihat keterangan berikut di bawah.
  2. Pada semua kasus harus mengikuti tujuan dari definisi dan tidak hanya yang terbaca saja.
  3. Batas akurasi, digunakan dalam pendefinisian, artinya adalah pendekatan hasil terhadap harga sebenarnya, tidak boleh dikacaukan dengan pengertian presisi yang mana pendekatan jumlah dari hasil ulangan masing-masing, dengan mengesampingkan keakuratannya.
  4. Untuk mencapai grade 3 perlu menggunakan clinometer pada lorong yang mempunyai kemiringan.
  5. Peralatan perlu dikalibrasikan lebih dahulu untuk mencapai Grade 5.
  6. Untuk Grade 6 perlu menggunakan compas yang dapat melewati batas akurasi, begitu pula untuk clinometer. Keakuratan jarak dan posisi stsiun kurang dari 2,5 cm dan perlu adanya tripod untuk kedudukan peralatan magnetik (compas dan clinometer).
  7. Untuk Grade X harus dimasukkan dalam catatan yaitu gambar dan tipe instrumen serta teknik yang dipakai. Bersamaan dengan perkiraan keakuratan dibandingkan dengan Grade 3, 5, atau
  8. Grade 2 dan 4 dipakai pada saat survey dilaksanakn menemui kondisi yang menyebabkan survey dengan tingkat yang lebih tinggi terhalangi, dan tidak memungkinkan untuk dilaksanakan survey lagi dimasa mendatang.
  9. Publikasi ulang tabel di atas harus selalu disertai dengan catatan ini.
    • Kompass : Suunto tipe KB 14/360 RT Alternatif : liquid-filled prismatic compass (misal kompas militer Mark III atau tipe 06A), Sylva tipe 7NL.
    • Clinometer : Suunto tipe PM5360PCT
    • Alternatif : Abney level atau Watkin (mirror)

    • Pita ukur dari bahan fiber, panjang maksimum 30 m
  10. + Klas A semua detail dibuat berdasar hapalan luar kepala

    + Klas B detail lorong dicatat dalam gua berdasar perkiraan

    + Klas C detail lorong diukur pada stasiun survey

    + Klas D detail diukur pada stasiun survey dan antar stasiun

    Kombinasi Grade dan Klasifikasi direkomendasikan :
    - Grade 1A
    - Grade 3B/ 3C
    - Grade 5C/ 5D
    - Grade 6D
    - Grade XB, XC,atau XD

    Derajat pengukuran ini harus diusahakan sejak dua stasiun pertama, karena kesalahan akan bersifat komulatif, makin jauh dari titik awal, semakin besar pula kesalahan yang terjadi.

    Grade 3 Direkomendasi jika menggunakan alat ukur magnetik kasar. Misal kompas saku (Suunto MC-1 mirrors) dan clinometer swakarya. Jarak dapat diukur dengan pita ukur, menghitung langkah atau panjang tubuh.

    Grade 5 Type survey ini adalah yang paling banyak dilakukan. Karena merupakan survey yang cukup akurat dengan waktu yang memungkinkan. Survey direkomendasikan menggunakan leap frog method dan lokasi stasiun survey menggunakan batu atau bentukan lain. Alat :
    Grade 6 Digunakan oleh para spesialis. Grade ini memenuhi keinginan untuk mendapatkan akurasi tinggi dalam survey. Tripod yang digunakan untuk kompas dan clinometer untuk meminimalkan kesalahan posisi stasiun. Grade X Penggunaan grade X pada survey gua biasanya pada perencanaan usaha-usaha pengembangan atau eksploitasi gua.

    grafik grade
    Gambar grafik probabilitas kesalahan survey
    (Menurut Bryan Ellis)

    Banyak metode lain yang dilaksanakan, namun dengan menggunakan standard yang umum dipakai ini, akan lebih mudah diketahui kualifikasi dan standart peta yang dihasilkan. Dengan pencantuman grade pada peta yang dibuat, maka pembaca peta yang juga surveyor gua akan mengetahui alat dan metode survey yang digunakan. Sekaligus pertanggung jawaban atas survey yang telah dilaksanakan dan peta yang dihasilkan. Tetapi yang paling banyak digunakan adalah standar 5B dan 4. Yang menjadi pertimbangan atas hilangnya keakuratan antara pencatatan survey sampai ke penyelesaian peta datang dari dua hal, yaitu pada waktu pengolahan data dan penggambaran peta.

PEMETAAN GUA

Di dalam memetakan gua sudah barang tentu kita membutuhkan beberapa peralatan yang di antaranya adalah kompas yang digunakan untuk mengetahui berapa derajat perbedaan arah lorong/jalan terhadap arah utara. Clinometer untuk mengetahui kemiringan bidang terhadap sumbu horizontal dalam satuan derajat. Topofil yang sebenarnya memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda dengan pita ukur, hanya saja benda ini berkerja atas dasar roda yang berputar menggerakkan angka-angka dalam satuan centimeter. Pita ukur, pita ini dibuat dari bahan linen atau plat baja tipis yang kemudian seiring dengan perkembangan jaman saat ini telah banyak pula yang dibuat dari bahan fiber yang mana pita ini dilengkapi dengan ukuran dalam satuan mm sampai cm. lembar kerja (work Sheet) juga sangat dibutuhkan dimana lembar kerja ini akan digunakan untuk mencatat data yang diambil selama pemetaan dan lembar ini diusahakan terbuat dari benda yang tahan terhadap air.

Layaknya peta-peta yang lain, peta gua juga memiliki derajat ketelitian (grade) yang berbeda. Tingkatan itu yang oleh BCRA (British Cave Research Association) dibedakan menjadi 6 tingkatan khusus dan pembagian ini berdasarkan keakuratan pengukuran, teknik yang digunakan dan peralatan yang digunakan. Grade I adalah grade yang hanya membuat sketsa dengan akurasi rendah, tanpa membuat pengukuran. Grade II adalah grade yang digunakan jika diperlukan untuk menggambarkan perantaraan dalam akurasi antar grade I dan III. Grade III adalah pemetaan yang menggunakan survey magnetic kasar, sudut horizontal dan sudut vertical dan diukur dengan peralatan, derajat kesalahan ± 2,5°. Alat ukur jarak dengan kesalahan ± 50 cm, kesalahan posisi stasiun 50 cm. Grade IV dapat digunakan jika diperlukan untuk menggambarkan survey yang tidak sampai ke grade V tetapi lebih akurat daripada grade III. Grade V adalah survey dengan peralatan magnetic yang mana akurasi sudut horizontal dan vertikalnya hanya ± 1°. Akurasi pengukuran jarak ± 10 cm dan kesalahan posisi stasiun kurang dari 10 cm. Grade VI adalah survey yang dilakukan dengan lebih akurat dari grade V. Sementara grade yang terakhir adalah grade X yang mana survey ini menggunakan theodolite sebagai pengganti kompas.

Selain tingkatan-tingkatan diatas BCRA membuat klasifikasi tingkatan peta gua berdasarkan tingkat ketelitian detail survey yang dibagi atas klas A yang mana semua detail dibuat berdasarkan hapalan luar kepala, Klas B yang detail lorong dicatat dalam gua berdasarkan perkiraan, Klas C detail lorong diukur pada stasiun survey, dan yang terakhir Klas D yang detail lorong diukur pada stasiun survey dan antar stasiun.

Kombinasi grade dan Klas juga sering digunakan dengan catatan bahwa derajat pengukuran ini harus diusahakan sejak dua stasiun pertama karena kesalahan yang timbul juga akan bersifat kumulatif dimana semakin jauh dari titik awal maka akan semakin besar pula kesalahan yang ditimbulkan.

Di dalam pemetaan gua terdapat dua metode/system pengukuran yang sering digunakan yang di antaranya adalah forward method dan leapfrog method. Forward method adalah metode dimana surveyor dan pencatat berjalan berurutan (depan dan belakang) hingga stasiun yang terakhir. Sedangkan leapfrog method adalah surveyor dan pencatat saling bergantian berada didepan atau belakang layaknya lompat katak dan metode ini lebih teliti dari metode forward method.

System pemetaan gua berdasarkan arah survey juga terbagi dua yaitu Top to bottom dan Bottom to top. Top to bottom adalah pengukuran yang dimulai dari entrance hingga ujung lorong/dasar gua atau hingga stasiun terakhir. Bottom to top adalah pengukuran dari ujung lorong/dasar gua sampai entrance atau kebalikan dari system Top to bottom.

Pengumpulan data adalah langkah pertama yang bisa digunakan dalam pembuatan peta gua. Pengumpulan data biasanya dilakukan oleh suatu team yang idealnya terdiri dari empat orang dengan pembagian tugas masing-masing. Orang pertama akan bertugas sebagai pembaca alat-alat ukur. Orang pertama ini akan membawa alat-alat seperti clinometer, kompas dan meteran. Orang kedua bertugas sebagai stasiun pengukuran, orang kedua ini membawa ujung meteran yang dipegang oleh orang pertama. Tinggi orang pertama dan kedua sedapatnya diusahakan memiliki tinggi yang sama dengan tujuan untuk mendapatkan ketelitian dalam pengukuran elevasi (kemiringan lantai). Orang ketiga bertugas sebagai pencatat data pengukuran, descriptor untuk cross system (irisan lorong) dan sketsa perjalanan. Orang keempat adalah leader, penentu titik stasiun maupun sebagai pemasang lintasan pada penelusuran gua vertical.

Data-data yang diambil berupa sudut clinometer untuk mengetahui elevasi/sudut kemiringan lantai gua. Sudut kompas untuk mengetahui arah lorong dari arah utara kompas. Jarak miring untuk mengetahui jarak antar stasiun pengukuran. Jarak kiri/kanan untuk memperoleh jarak antara dinding kiri dan kanan dari stasiun pengukuran. Tinggi atap untuk mengetahui tinggi atap pada setiap stasiun pengukuran. Cross section adalah penampang lorong gua. Sketsa perjalanan adalah sketsa yang dibuat dari arah kompas dan diisi dengan keterangan-keterangan yang tidak terdapat dalam work sheet data (diisi dengan simbol-simbol kondisi gua, ornament gua, air, lumpur, pasir dan hal-hal lainnya).

Setelah semua data yang diperlukan diperoleh barulah diadakan perhitungan data untuk menghitung data-data yang diambil dilapangan. Untuk perhitungan ini sudah ada table yang didalamnya terdapat rumus-rumus yang akan diper-gunakan, antara lain menggunakan rumus Jarak datar (I) = cosinus klino x jarak miring (D), Absis (X) = sinus kompas x jarak datar (I), Koordinasi sumbu x (2x) = penambahan absis terhadap status sebelumnya, Ordinasi (Y) = cosinus kompas x jarak datar (I), Koordinasi sumbu Y (ÓY) = penambahan ordinat terhadap status sebelumnya, Beda elevasi (h) =tangent klino x jarak datar (I), Beda elevasi total (Óh) = penambahan beda elevasi terhadap stasiun sebelumnya. Dalam penggunaan rumus-rumus diatas hal-hal yang perlu diperhatikan adalah penghitungan Óx, Óy, Óh pada percobaan sebelumnya.

Setelah semua data-data diperoleh, barulah gua dapat digambarkan sebagai plan section, extended section, projected section atau peta gua tiga dimensi. Plan section adalah peta gua tampak atas., extended section adalah peta gua tampak samping tanpa proyeksi, sedangkan projected elevasion adalah peta gua tampak samping, diproyeksikan dari plan section.

Tahapan-tahapan dalam menggambar peta gua diawali dengan menentukan skala peta dan arah utara peta, penentuan titik koordinat tiap stasiun (system koordinasi polar, system koordinasi cartesius), penetuan jarak titik dinding dan kanan tiap stasiun dan tiap perubahan lebar lorong, menghubungkan titik dinding kiri dan kanan antar stasiun, memasukkan symbol-simbol koordinasi gua, menggambar cross section dan membuat kelengkapan peta. Kelengkapan peta sendiri terdiri dari nama gua, grade peta, lokasi gua (administrasi, geografi, elevasi dpl), arah utara peta, skala peta (grafis, fraksi), waktu survey (tanggal, bulan, tahun), surveyor (kelompok, anggota, acara), panjang dan kedalaman gua dan yang terakhir diharapkan adanya foto-foto gua tersebut. Selamat mencoba !!! Cepot

Pengukuran (Surveying)

Pengukuran adalah sebuah teknik pengambilan data yang
dapat memberikan nilai panjang, tinggi dan arah
relatif dari sebuah obyek ke obyek lainnya. Pengukuran
terletak di antara ilmu geodesi dan ilmu pemetaan.
Hasil penelitian geodesi dipakai sebagai dasar
referensi pengukuran, kemudian hasil pengolahan data
pengukuran adalah dasar dari pembuatan peta.

Untuk melakukan sebuah pengukuran diperlukan
perencanaan dan persiapan terlebih dahulu agar hasil
yang diperoleh dapat digunakan secara efektif dengan
waktu, biaya dan tenaga pengukuran yang efisien.

Pengukuran memerlukan alat ukur. Theodolite,
waterpass, meteran, total station, gps, echosounder,
sextant adalah contoh-contoh alat ukur.

Pengukuran dan Pemetaan Bidang Tanah

Melalui pengikatan kepada titik-titik dasar orde 4, maka dilaksanakan pengukuran tanah bidang per bidang. Bidang-bidang tanah hasil pengukuran kemudian dipetakan dalam Peta Dasar Pendaftaran. Peta ini berskala 1:1000 atau lebih besar untuk daerah perkotaan, 1:2500 atau lebih besar untuk daerah pertanian, dan 1:10000 atau lebih kecil untuk daerah perkebunan besar. Peta ini harus mempunyai ketelitian planimetris lebih besar atau sama dengan 0,3 mm pada skala peta.

Sebelum suatu bidang tanah diukur, wajib dipasang dan ditetapkan tanda-tanda batasnya, setelah mendapat persetujuan dari pemilik tanah yang berbatasan langsung. Apabila sampai dilakukannya penetapan batas dan pengukuran bidang tanah tidak tercapai kesepakatan mengenai batas-batasnya (terjadi sengketa batas), maka ditetapkan batas sementara yang menurut kenyataannya merupakan batas bidang-bidang tanah yang bersangkutan. Kepada yang bersengketa diberitahukan agar menyelesaikannya melalui Pengadilan.

Pengukuran bidang tanah dapat dilakukan secara terestrial, fotogrametrik, atau metoda lainnya. Pengukuran terestris adalah pengukuran dengan menggunakan alat ukur theodolite berikut perlengkapannya seperti: pita ukur, baak ukur, electronic distance measurement (EDM), GPS receiver, dan lain sebagainya.

Adapun pemetaan secara fotogrametrik adalah pemetaan melalui foto udara (periksa foto simulasi di atas). Hasil pemetaan secara fotogrametrik berupa peta foto tidak dapat langsung dijadikan dasar atau lampiran penerbitan Sertifikat Hak atas Tanah. Pemetaan secara fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran secara terestris, mulai dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga kepada pengukuran batas tanah. Batas-batas tanah yang diidentifikasi pada peta foto harus diukur di lapangan.

Biaya Operasional Survey dan Pemetaan

Banyak orang yang menganggap pekerjaan pengukuran dengan menggunakan theodolite merupakan pekerjaan yang sederhana dan bisa dilakukan oleh tenaga kerja biasa tanpa keahlian khusus atau tenaga ekstra. Juga terkait biaya, banyak orang yang mengira bahwa pengukuran dan pemetaan biayanya "kecil", padahal apabila dirinci dalam 1 (satu) hari pengukuran dapat dirinci biaya MINIMAL yang harus dikeluarkan adalah sebagai berikut:

1. Juru Ukur (yang pegang theodolite) 1 orang, fee minimal kalau berdasarkan SAB (satuan anggaran biaya) kota Bogor adalah Rp. 75.000,-, sedangkan kalau tarif swasta berkisar antara Rp. 100.000,- sd 250.000,- per hari.

2. Juru Rambu (yang pegang rambu dan perintis/logistik), antara 3 sd 5 orang tergantung medan yang akan disurvey, fee minimal kalau memakai tenaga lokal adalah Rp. 40.000,-, kalau di swasta/profesional antara 75.000 sd 150.000,-

3. Transportasi; sewa mobil termurah memakai bak terbuka adalah Rp. 150,000,- (plus bensin 50.000,- jadi Rp. 200.000) atau menyewa angkot sekali jalan Rp. 50.000,- jadi pulang-pergi Rp. 100.000,-, ini kalau survey dilakukan dalam kota.

4. Logistik lapangan; makan minum dan rokok bisa mencapai minimal Rp. 20.000,-/orang, dengan tim survey 4-5 orang, bisa dianggap logistik 1 hari adalah Rp. 100.000,- (sudah termasuk tetek bengek logistik lainnya).

5. Patok, paku, cat/pilox, dan ATK lapangan dan kantor, minimal; Rp. 250.000,- untuk pengukuran lokasi yang luasannya tidak terlalu luas (1 ad 2 hektar)

6. Sewa alat apabila tidak mempunyai theodolite; sewa theodolite T-2 paling murah berkisar Rp. 100.000,- sedangkan Total Station Rp. 250.000,- per hari.

7. Biaya studio, print ukuran A0 hitam putih per lembarnya sekitar Rp. 25.000,- kemudian untuk logistik pengolahan data 2-3 hari (tergantung banyaknya titik hasil pengukuran), yah ambil minimnya Rp. 500.000,-

Jadi kalau kita jumlahkan untuk satu hari pengukuran biaya operasional lapangan yang diperlukan adalah (MINIMAL):

Uraian

Harga/hari

Jumlah

Juru Ukur

75.000

75.000

Juru Rambu

50.000

200.000

Logistik

20.000

100.000

Transportasi

200.000

200.000


Total

575.000,-

Sewa Alat

100.000

100.000,-

Studio&ATK (LS)


750.000-

Jadi dalam 1 (hari) minimal operasional itu adalah sekitar Rp. 575.000,- (belum termasuk Studio & ATK), itu sudah SANGAT minimal sekali dan bahkan bisa kurang apabila medan pengukuran cukup berat. Operasional harian ini belum termasuk penghargaan jasa intelektual seorang juru ukur, padahal ilmu geodesi itu termasuk ilmu yang sulit untuk dipelajari.

Kalau mau standar yang benar, sehingga agak leluasa dalam pelaksanaan pengukuran, sebaiknya dianggarkan sekitar 1juta/hari.

Berdasarkan pengalaman ahli ukur, dalam satu hari kita dapat menembak situasi sekitar 100 sd 200 titik tergantung medan pengukuran di lapangan, kalau untuk pengukuran situasi jalan dan bangunan di pinggirnya, itu sekitar 200 sd 300 meter per harinya (akan banyak titik yang harus ditembak yaitu; pojok-pojok bangunan, selokan, jalan, pagar, dsb). atau kalau untuk medan pengukuran berupa lahan kosong sekitar 1000m x 500 m = 5.000m2 (setengah hektar) lahan kosong akan lebih cepat karena tidak terlalu banyak titik yang harus diukur, namun apabila ketinggiannya juga harus teliti dan medannya memerlukan rintisan, titik-titik pengukuran juga harus diperbanyak dan waktunya akan lebih lama juga.

Dengan perincian di atas maka apabila ada yang menerima order pengukuran dengan harga yang sangat minim, hasil yang peroleh tidak akan maksimal. Dalam kenyataannya sekarang ini banyak juru ukur yang hanya mendapat skill menggunakan theodolite dari otodidak belajar dari teman sesama surveyor, atau dilatih oleh yang punya theodolite atau dari lulusan SMK tanpa pengalaman yang memadai, padahal selain keahlian menggunakan alat theodolite, keahlian dalam pemetaan (proses pembuatan peta) dan prinsip-prinsip dalam pengukuran juga sangat diperlukan dan sangat berpengaruh terhadap hasil pengukuran

Dari tulisan ini diharapkan para pengguna jasa survey dan pemetaan agar dapat lebih menghargai jasa survey dan pemetaan, dan dapat mengetahui resiko apabila memberikan order survey pemetaan dengan harga yang minim, maka akan menghasilkan peta yang tidak benar, padahal peta adalah dasar dan awal dari keseluruhan tahapan dalam semua pekerjaan, baik sipil, arsitek, geologi dsb, sehingga kalau peta (dasarnya) saja sudah salah, bagaimana mau membuat perencanaan atau pekerjaan dengan benar?

 
Dukung Kampanye Stop Dreaming Start Action